Allah swt telah berjanji pada diri-Nya bahwa barang siapa membaca al-Qur’an, mengikuti al-Qur’an, mengamalkan apa yang ada di dalamnya, melaksanakan perintah-perintah al-Qur’an, dan menjauhi larangan-larangan al-Qur’an, niscaya orang tersebut tidak akan tersesat di dunia di saat umat manusia lain tersesat, dan tidak akan sengsara di akhirat, di hari dikala umat manusia sengsara. Sebaliknya barang siapa berpaling dari Al-Qur’an, enggan me-nghayati makna dari al-Qur’an (tadabur), membelakangi firman-firman-Nya, enggan membaca, merenungkan, dan me-ngamalkannya, maka Allah akan membuat kehidupan dunianya sempit, menjadikan dirinya rendah, merugi, dijauhkan dari rahmat Allah, dan kelak di akhirat Allah akan menjadikannya hina, mempermalukannya di depan para makhluk, dan menghukumnya. Seperti dalam firman Allah Surat Thaha ayat 124-125.
Orang yang melupakan Al-Qur’an kehidupannya sempit yaitu ditutupnya pintu pengharapan bagi dirinya oleh allah swt; juga kesenangan kesuksesan, dan ke-bahagiaan. Betapapun kekayaan, keturunannya, betapapun tinggi kedudukannya, tetapi Allah murka pada dirinya, menjadikannya hina, seolah-olah segala macam laknat ditimpakan pada wajahnya.
Oleh karena itu allah berfirman pada umat manusia, Maka apakah mereka tidak memerhatikan Al-Qur’an? Kalau sekiranya Al-Qur’an itu bukan datang dari sisi Allah, tentulah mereka mendapatkan pertentangan yang banyak didalamnya. (an-Nisa’ :82)
Artinya, apakah mereka tidak merenungkan kitab yang agung ini? Jika kitab ini buatan manusia, niscaya disana terdapat banyak kekurangan, sisi-sisi negatif, dan pertentangan. Maka apa gerangan yang menghalangi mereka untuk merenungkan Kitab Allah Yang Maha Bijaksana?
Allah juga berfirman
Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an ataukah hati mereka terkunci? (Muhammad : 24)
Mata hati mereka tertutup oleh kemaksiatan dan kejahatan sehinga tidak menyadari dan memahami Al-Qur’an. Dalam Firman Allah swt dalam surat Shad ayat 29 dikemukakan bahwa al-Qur’an adalah sebuah kitab yang diturunkan kepada umat manusia dengan penuh berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.
Oleh sebab itu Rasulullah saw membangkitkan semangat Al-Qur’an dalam jiwa para sahabat beliau, menjadikan mereka sebagai umat terbaik yang berjalan, dan sebaik-baiknya manusia yang menegakkan hukum Allah di atas bumi.
Bahkan jika salah seorang diantara mereka mendengar ayat-ayat Al-Qur’an, jiwa mereka berkobar dan menyala oleh semangat hidayah dan amar ma’ruf nahi munkar. Dalam hadits riwayat Ahmad dan Ibnu Majah diterangkan Ketika Rasulullah saw sedang hijrah beliau berpapasan dengan Abdullah bin Mas’ud ra sebelum memeluk islam. Dia masih kanak-kanak dan sedang mengembalakan kambing. Rasulullah saw meminta-nya sedikit air susu tetapi Ibnu Mas’ud mengatakan bahwa domba-dombanya sedang tidak mengeluar-kan air susu. Namun demikian seekor domba mendekat Rasulullah saw, lalu beliau mengusap putting domba itu dan mem-baca Basmallah, memohon berkah, dan membaca beberapa ayat Al-Qur’an. Ibnu Mas’ud berkata,” Ajari aku sesuatu tentang ini!” lalu beliau bersabda “Sungguh engkau adalah anak yang terpelajar.”
Ibnu Mas’ud masuk Islam, dengan demikian Islam telah menambah dirinya cahaya, kecerdasan, dan semangat. Tiada pernah sejarah mencatat agama seperti Islam. Ketika mendengar surat ar-Rahman, ia menghafalkan-nya pada kesempatan pertama. Lalu Ibnu Mas’ud berjalam menuju masjidil Haram, mendatangi patung-patung kesesatan, dan para pembesar jahiliyah seperti halnya Abu Jahal dan Abu Lahab menghalang-halanginya. Ketika Ibnu Mas’ud berdiri dan membacakan kepada mereka surat ar-Rahman mereka bersama-sama memukuli wajah mulia Ibnu Mas’ud, tetapi beliau tidak menghentikan bacaannya. Setelah selesai membaca seluruh surat, Ibnu Mas’ud jatuh pingsan.
Ibnu Mas’ud adalah orang yang kecil perawakannya, tetapi agama ini dan Al-Qur’an telah mendatangkan begitu banyak keajaiban pada dirinya. Para penulis sejarah menyebutkan bahwa jika Ibnu Mas’ud berdiri, maka sama dengan orang orang yang sedang duduk. Tetapi hanya Allah swt yang mengetahui kebahagiaan yang dirasakan dalam hatinya.
Dalam hadits riwayat Ahmad dan Ibnu Hibban dikemukakan suatu ketika ada orang-orang yang saling menertawakan ukuran betisnya yang amat kecil dan ba- dannya yang kelewat kurus. Maka Rasulullah saw berkata,” apakah kalian menertawakan kecilnya betis Ibnu Mas’ud? Demi Allah (yang jiwaku berada di tangan-Nya), sesungguhnya keduanya dalam mizan pada hari kiamat lebih berat dari gunung uhud.”
Inilah sesungguhnya makna keagungan; keagungan sebuah hati. Inilah arti kekuatan yang bersumber dari jiwa. Orang-orang yang sengsara berguguran, meskipun badan mereka besar.
Wahai yang menginginkan naungan di hari yang panas oleh matahari di hari kiamat, disaat terjadinya malapetaka di hari yang menakutkan! Bernaunglah di bawah ayat-ayat Allah swt.
Hati yang sama sekali tidak sadar akan al-Qur’an adalah hati yang sia-sia, hati yang terlaknat, hati yang terkalahkan, dan hati yang dimurkai.
Ibnu Taimiyah berkata, “Setiap hati yang tidak disinari cahaya al-Qur’an adalah hati yang terlaknat dan setiap jiwa yang tidak pernah terbit darinya cahaya agama ini adalah jiwa yang trerlaknat”. Rasulullah saw bersabda,” Sesungguhnya manusia yang dalam hatinya tidak ada sedikitpun al-Qur’an adalah laksana rumah yang hancur”(HR.Ahmad, Tirmidzi dan ad-Darimi)
Salah seorang pemuka umat islam yang mempunyai ilmu yang mendalam tentang al-Qur’an dan hidup bersama al-Qur’an adalah Ubbayy bin Ka’ab ra.
Allah menurunkan surat al-Bayyinah ayat 1. yang artinya : orang-orang kafir yakni Ahlul kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata; untuk Ubayy bin Ka’ab. Bahkan Rasulullah saw datang langsung kerumah Ubayy bin Ka’ab dan membacakan ayat tersebut.
Suatu ketika, Rasulullah saw menjadi imam dalam shalat. Beliau melewati sebuah ayat dari surat yang dibacanya karena lupa. Ketika salam, para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, engkau melewati sebuah ayat, apakah telah di-nasakh atau engkau lupa?”
“apakah di antara kaum di sini ada ubayy bin Ka’ab?” Rasulullah bertanya.
Mereka menjawab, “Benar, ada ya Rasulullah.”
Rasulullah bertanya,” Wahai Abu Mundzir, apakah aku melupakan satu ayat?” Ubayy menjawab, Ya, benar.”
Rasul bertanya,”Apa yang menghalangimu? Mengapa engkau tidak menegur?” (HR. Ahmad)
Dalam kasus ini Rasulullah saw memberi contoh untuk menyampaikan permasalahan kepada ahlinya.
Para sahabat Rasulullah saw saat itu tidak merasa ada sesuatu yang membuat mereka sibuk sehingga melalaikan al-Qur’an. Tetapi zaman ini, kebanyakan manusia merasa uzur oleh alasan anak, Keluarga, bisnis, atau jabatan, sehingga tidak ada lagi waktu untuk membaca dan merenungkan al-Qur’an. Jika demikian halnya, mereka digolongkan tidak “hidup.”
Utsman ra adalah seorang khalifah. Meskipun sebagai khalifah, pemimpin umat, dan segala urusan umat berada di kedua tangannya, tetapi Utsman tidak merasa di sibukkan oleh urusannya sehingga malalaikan al-Qur’an.
Maka wajib bagi muslim agar tidak terhalangi oleh kesibukan dan gangguan sehingga mengesampingkan al-Qur’an. Wajib baginya untuk hidup dengan sungguh-sungguh sebagai muslim jika ia mengharap kehidupan yang sejati dan kebahagiaan dunia dan akherat.
Kita adalah umat yang kekal, tetapi kita tidak akan kekal selain dengan kitab yang agung. Kita tidak akan kekal selain dengan syariat Nabi kita saw. Jika kita mengabaikan dan meninggalkannya, niscaya kita akan musnah. Demi Allah! Lalu kita akan menjadi kurban isme-isme yang destruktif dan kita akan dikuasai umat lain.
Atas alasan demikian ini, orientalis Hongaria Goldziher mengatakan, “ Orang-orang Arab itu tidak akan mungkin ditaklukkan selama masih ada tiga hal yang dimiliki mereka –yang dimaksud mereka disini adalah umat Islam– sebab tiada ke-Araban jika terpisah dari Islam dan tiada ke-Islaman selain dia yang berserah diri pada Allah. Tiga hal ini adalah sholat jum’at, kitab yang agung yakni kitabullah, dan dua Masjid Haram yang mulia, yakni kiblat Ka’bah dan Masjid Nabawi.”
Jika tiga hal itu masih ada pada kita, insya Allah, kita akan kekal.
Sesungguhnya al-Qur’an ini merupakan garis-garis besar haluan umat yang abadi. Wahai anak cucu orang yang membawa petunjuk kepada umat manusia, wahai anak cucu manusia yang mengajarkan” La ilaha illallah”, yang membawa panji ” La ilaha illallah” itu seraya mengagungkan dan membesarkan nama Allah di barat dan di timur! Sesungguhnya umat ini adalah umat pemuka, yang memberikan kepada manusia dari al-Qur’an, tetapi tidak mengambil sesuatupun dari mereka. Umat ini mengarahkan pada manusia pada kebenaran, tetapi mereka tidak!
Kita telah mendapat bukti sejarah bahwa selama kita berpegang teguh pada al-Qur’an, selama itu pula kita akan meraih kemenangan; sebaliknya selama kita meninggalkan al-Qur’an, kita akan terhina!
Pada abad ke-8 H, pengamalan al-Qur’an pernah di abaikan. Maka datanglah kelompok ar-Rafidhah membonceng kekuat-an Tartar dari Mongol dipimpin Jengis Khan. Dalam tempo delapan hari, 800.000 orang tewas terbunuh, Masjid-Masjid luluh lantah, mushaf-mushaf al-Qur’an di bakar, dan tentara Tartar membasmi anak-anak dan wanita kita! Kembalilah wahai generasi muda dan tetua umat kepada al-Qur’an, kembalilah kaum lelaki dan wanita umat ini kepada al-Qur’an! Hidupkan rumah kalian dengan al-Qur’an, bangkitkan kalbu kalian dengan al-Qur’an, dan ramaikan hati ini dengan kitab Allah! Semoga Allah swt menguatkan jiwa kita dengan ayat-ayat-Nya, mengembalikan kita kepada al-Qur’an dengan cara kembali yang baik, dan memberi petunjuk kita kejalan yang lurus.
Para ulama memberikan pen-jelasan bahwa mengabaikan al-Qur’an itu terdiri dari lima tingkatan : mengabaikan bacaan al-Qur’an, mengabaikan penghayatan al-Qur’an (tadabur), meng-abaikan pengalaman al-Qur’an, mengabaikan pencarian kesembuhan dari al-Qur’an, mengabaikan al-Qur’an sebagai sumber hukum bagi kehidupan manusia.
Pertama, mengabaikan bacaan al-Qur’an. Yakni ketika seorang enggan membaca al-Qur’an, tidak ada satu hizib-pun yang dibacanya dalam sehari, tidak menengoknya, tidak memerhatikan baris-baris tulisan al-Qur’an, dan tidak hidup bersama ayat-ayatnya. Dia adalah hamba yang tersesat, yang tunduk pada hawa nafsu, yang merasa tidak membutuhkan al-Qur’an. Bahkan diantara mereka tidak pernah menyentuh al-Qur’an selain bulan Ramadlan!
Kedua, mengabaikan peng-hayatan al-Qur’an. Yakni orang yang membaca al-Qur’an tetapi lalai, terlena, dan dipermainkan oleh pikirannya. Dia menyuarakan dengan lisannya tetapi hatinya di pasar, di sawah, di kantor, atau di sekolah. Pikiran melayang melihat manusia, mata melihat, mulut berbicara tetapi tidak mengerti atau pun tak berusaha mengerti. Dia termasuk orang yang mengabaikan penghayatan al-Qur’an. Ia hanya men-dapatkan pahala tilawah.
Ketiga, mengabaikan al-Qur’an, baik dari segi tilawah, tadabur, maupun pengalaman al-Qur’an. Manusia-manusia sepeti itu sungguh telah ditutup rapat hatinya dan mengikuti hawa nafsunya. Rasulullah saw menjadi saksi atas mereka. Jika mereka membaca al-Qur’an, ia akan menjadi hujah yang memberatkan mereka, bukan hujjah yang membela mereka. Sebab mereka tidak mengamalkan al-Qur’an, tidak shalat bersama yang lain di masjid, tidak pernah bersuci, tidak beretika seperti adab yang diajarkan al-Qur’an. Bahkan mereka menghina dan merendahkan orang-orang saleh. Golongan ini mirip orang munafik bahkan mereka adalah orang munafik.
Keempat, mengabaikan upaya mencari kesembuhan dari al-Qur’an. Sekelompok orang mengatakan bahwa merupakan lelucon jika al-Qur’an itu dibacakan kepada orang yang sedang sakit atau orang yang pingsan. Bagaimana mereka bisa sembuh dengan al-Qur’an, bagaimana mungkin al-Qur’an dijadikan obat? Perkataan mereka itu telah berlawanan dengan dalil akal maupun naql ( dalil dari kitab dan sunnah).
Dari sisi naql banyak sekali nash yang menunjukkan bahwa al-Qur’an dapat dijadikan sebagai sumber kesembuhan dan pengobatan. Berdasarkan pertimbangan akal, hal itu tidak bertentangan dengan hukum sebab akibat, yang diantaranya adalah bahwa terapi kesembuhan dengan cara menyegarkan jiwa dan membuatnya bahagia. Dalam hal ini al-Qur’an telah berbuat banyak dalam memberi kesegaran dan kebahagiaan jiwa. Oleh sebab itu rasulullah saw mencari kesembuhan dari al-Qur’an dan dengan membaca al-Qur’an. Ketika mendapat serangan sihir dari seorang yahudi, beliau membaca al-Mu’awwidzatain (surat an-Naas dan al-Falaq) dan Allah menyembuhkannya. Jika hendak tidur, Rasulullah saw mengusap badannya dan membaca do’a-do’a perlindungan.
Kelima, mengabaikan al-Qur’an dan menjadikan al-Qur’an hanya untuk dibaca-kan dalam pertemuan-pertemuan, dalam pesta, atau diatas kuburan. Namun jika al-Qur’an harus diterapkan dalam kehidupan nyata –seperti pada persoalan ekonomi, politik, pemerintahan, atau dalam bidang seni budaya– mereka berpaling dan meninggalkan al-Qur’an. Mereka mengatakan bahwa agenda-agenda kehidupan itu merupakan persoalan tersendiri dan terpisah dari al-Qur’an.
Mereka tidak memahami bahwa fungsi al-Qur’an itu adalah sebagai petunjuk umat manusia, sebagai sumber hukum bagi umat manusia; yang meliputi aspek ekonomi, militer, hubungan manusia dengan sesama, dan segala yang bertalian dengan aktifvitas kehidupan. Sebab al-Qur’an merupakan pedoman hidup, pembimbing menuju akhirat, dan pengarah bagi jiwa.
Tidak dibenarkan jika ada alasan yang merintangi kalian dari kitab Allah.
Hidupkanlah al-Qur’an dalam rumah kalian, dalam hubungan keluarga, di sekolah, dalam kendaraan dan dimanapun anda; agar dengan demikian Allah mengekalkan kedamaian dan keselamatan,
agar Allah tidak murka kepada kita sehingga Dia akan mengguncangkan hidup kita sebagai-mana Dia mengguncangkan umat lain. Dan membinasakan kita seperti umat yang telah dibinasakan oleh-Nya. Sungguh adzab Allah swt tidak akan dapat ditolak oleh orang-orang yang berbuat kejahatan.
Dan ketahuilah bahwa diantara hal-hal yang bertentangan dengan al-Qur’an adalah nyanyian-nyanyian yang memabuk-kan, yang telah menjadikan generasi kita pemalas, kehilangan jati diri, dan tersesat jalan.
Jika seseorang dari mereka menjadi dewasa dan menginjak usia 15 tahun,
maka ia menjadi terbiasa larut dalam nyanyian sehari semalam, lalai akan tugas dan masa depan dirinya, dan lebih-lebih lagi lalai pada kematian yang akan memulangkannya kepada Allah. Dia tidak menyadiri posisi dirinya dalam hidup, kemudian tak berapa lama orang menyebutnya ”Remaja yang bintangnya sedang melambung”. Tidak! Sejatinya dia tidak sedang naik tetapi malah terpuruk. Sebab sesungguhnya orang yang “di atas” adalah yang menghargai diri sendiri dengan melakukan sujud kepada Allah, yang menghidupkan “la ilaha illallah” dalam jiwanya yang menjadi mulia oleh penghambaan dirinya kepada Allah, dan yang menjaga diri dari perbuatan maksiat.
Pun sebaliknya ada beberapa hal yang membuat kita menjadi ahli al-Qur’an yaitu
Pertama, mnyibukkan diri dengan al-Qur’an. Kita ushakan kehidupan kita tidak lepas dari al-Qur’an dengan cara memberikan waktu luang untuk membacanya. Dalam sebuah hadits qudsi, Nabi saw menyatakan : “Tuhan Azza Wa Jalla berfirman : “barang siapa yang disibukkan al-Qur’an dan mengingat Aku, Aku akan memberikan kepadanya sesuatu yang lebih baik dari apa yang dipinta oleh orang-orang yang meminta (kepada-Ku).
Keutamaan firman allah (al-Qur’an) dibandingkan dengan seluruh perkataan (lain) adalah laksana keutamaan Allah disbanding dengan ciptaan-Nya”(HR. Turmudzi)
Hadits lain menyebutkan, Rasulullah saw bersabda :”Bacalah oleh kalian al-Qur’an ini, dan janganlah kalian tertipu oleh lembaran-lembaran yang tergantung ini. Sesungguhnya Allah tidak akan menyiksa hati yang sadar akan al-Qur’an (HR. al-Darimiy).
Kedua, mentadabburi isinya. Kita berusaha untuk menghyati apa yang kita baca(al-Qur’an). Sehingga kita benar-benar akan menemukan bahwa al-Qur’an itu adalah benar-benar diturunkan dari Allah swt. Karena kalau diturunkan selain dari Allah, niscaya mengandung kontradiksi dan kesalahan. Disamping itu dalam surat Muhammad ayat 24 disebutkan bahwa kita dianjurkan untuk mentadaburri al-Qur’an.
Ketiga, mengamalkan kandungan al-Qur’an. Sungguh al-Qur’an tidak akan memancarkan cahaya jika ia tidak dipublikasikan oleh para “ahlinya”, dan kalau bukan kita umat muslim siapa lagi yang akn mempublikasikan dengan cara mengaplikasikannya dalam kehidupan kita. Selain berusaha untuk mengamalkan al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari kita juga dituntut untuk m al-Qur’an itu kepada orang lain. Dalam hadits riwayat Bukhari dinyatakan “Bahwa sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari dan mengajarkannya kepada orang lain.” Untuk itulah Nabi berwasiat kepada Abu Dzar al-Ghifari: “Hendaklah engkau membaca al-Qur’an, ia adalah cahayamu di dunia dan menjadikanmu disebut-sebut di atas langit” (HR. Abu Ya’la)
Hasan al-Bashri berkata :” carilah kelezatan dalam tiga hal : dalam shalat, dalam melakukan dzikir dan dalam membaca al-Qur’an. Kalian akan merasakannya, jika tidak berarti pintu hati telah tertutup.”
Utsman juga berkata : “ jika hati kalian itu bersih, niscaya ia tidak akan pernah kenyang dari perkataan Tuhan kalian” itulah potret dari ahli al-Qur’an. Karena mereka tahu bahwa itu kitab pilihan, dibawa oleh utusan pilihan (jibril), diturunkan kepada Nabi pilihan untuk dihadiahkan kepada umat pilihan.
Tidakkah kita ingin hati kita selalu disinari oleh cahaya al-Qur’an. Tidakkah kita ingin menjadi “ahli al-Qur’an” seperti mereka? Mudah-mudahan dengan memahami dan mengamalkan fungsi al-Qur’an diatas, kita dapat menjadi “ ahli al-Qur’an” :yaitu orang yang benar-benar meresapi, memahami, dan mengamalkan isi (kandungan) al-Qur’an dalam kehidupan.
Kamis, 12 Maret 2009
Ciri – istri
carilah istri dengan ciri" sebagai berikut
Seorang gadis kecil bertanya kepada ayahnya,
Abi ceritakan padaku tentang Akhwat sejati!
Sang ayah pun menoleh sambil kemudian
Tersenyum ;
Anakku. ..
Akhwat sejati bukan dilihat dari
kecantikan paras wajahnya,
tetapi dari kecantikan hati yang ada
dibaliknya.
Akhwat sejati bukan dilihat dari bentuk
tubuhnya yang mempesona,
tetapi
dari sejauh mana dia menutup tubuhnya.
Akhwat sejati bukan dilihat dari begitu
banyaknya kebaikan yang dia berikan,
tetapi dari keikhlasan dia memberikan
kebaikan itu.
Akhwat sejati bukan dilihat dari
seberapa indah lantunan suaranya,
tetapi dari apa yang sering mulutnya
bicarakan.
Akhwat sejati bukan dilihat dari
keahliannya berbicara,
tetapi
dari bagaimana caranya berbicara.
Sang ayah diam sejenak sembari melihat
kearah putrinya.
Lantas apalagi Abi?, sahut putrinya
Ketahuilah putriku...
Akhwat sejati bukan dilihat dari
keberaniannya berpakaian,
tetapi
dari sejauh mana dia mempertahankan
kehormatannya.
Akhwat sejati bukan dilihat dari
kekhawatirannya digoda orang di jalan,
tetapi
dari kekhawatiran dirinyalah yang
mengundang orang menjadi tergoda.
Akhwat sejati bukanlah dilihat dari
seberapa banyak dan besarnya ujian yang
dia jalani,
tetapi
dari sejauh mana dia menghadapi ujian
itu dengan penuh kesabaran dan rasa syukur.
Dan ingatlah...
Akhwat sejati bukan dilihat dari sifat
supelnya bergaul,
tetapi dari sejauh mana dia bisa menjaga
kehormatannya dalam bergaul.
Setelah itu, sang anak kembali bertanya,
Siapakah yang dapat menjadi kriteria
seperti itu, Abi?
Sang ayah memberikan sebuah buku dan
berkata,
Pelajarilah Mereka!
Sang anak pun mengambil buku itu dan
terlihatlah sebuah tulisan,
ISTRI RASULULLAH
Seorang gadis kecil bertanya kepada ayahnya,
Abi ceritakan padaku tentang Akhwat sejati!
Sang ayah pun menoleh sambil kemudian
Tersenyum ;
Anakku. ..
Akhwat sejati bukan dilihat dari
kecantikan paras wajahnya,
tetapi dari kecantikan hati yang ada
dibaliknya.
Akhwat sejati bukan dilihat dari bentuk
tubuhnya yang mempesona,
tetapi
dari sejauh mana dia menutup tubuhnya.
Akhwat sejati bukan dilihat dari begitu
banyaknya kebaikan yang dia berikan,
tetapi dari keikhlasan dia memberikan
kebaikan itu.
Akhwat sejati bukan dilihat dari
seberapa indah lantunan suaranya,
tetapi dari apa yang sering mulutnya
bicarakan.
Akhwat sejati bukan dilihat dari
keahliannya berbicara,
tetapi
dari bagaimana caranya berbicara.
Sang ayah diam sejenak sembari melihat
kearah putrinya.
Lantas apalagi Abi?, sahut putrinya
Ketahuilah putriku...
Akhwat sejati bukan dilihat dari
keberaniannya berpakaian,
tetapi
dari sejauh mana dia mempertahankan
kehormatannya.
Akhwat sejati bukan dilihat dari
kekhawatirannya digoda orang di jalan,
tetapi
dari kekhawatiran dirinyalah yang
mengundang orang menjadi tergoda.
Akhwat sejati bukanlah dilihat dari
seberapa banyak dan besarnya ujian yang
dia jalani,
tetapi
dari sejauh mana dia menghadapi ujian
itu dengan penuh kesabaran dan rasa syukur.
Dan ingatlah...
Akhwat sejati bukan dilihat dari sifat
supelnya bergaul,
tetapi dari sejauh mana dia bisa menjaga
kehormatannya dalam bergaul.
Setelah itu, sang anak kembali bertanya,
Siapakah yang dapat menjadi kriteria
seperti itu, Abi?
Sang ayah memberikan sebuah buku dan
berkata,
Pelajarilah Mereka!
Sang anak pun mengambil buku itu dan
terlihatlah sebuah tulisan,
ISTRI RASULULLAH
Mencintai Orang Yang Spesial
Mencintai Orang Yang Spesial...
Sangatlah menyakitkan mencintai
seseorang tetapi tidak dicintai
olehnya. Tetapi lebih indah untuk
mencintai dan tidak pernah menemukan
keberanian untuk memberitahu mereka apa
yg kamu rasakan.
Hanya perlu satu menit untuk
menghancurkan seseorang, satu jam untuk
menyukai seseorang, satu hari untuk
mencintai seseorang, tetapi membutuhkan
waktu seumur hidup untuk melupakan
seseorang.
Cinta adalah ketika kamu membawa
perasaan, kesabaran,dan roomantis dalam
suatu hubungan dan menemukan bahwa kamu
peduli dengan dia.
Hal yang menyedihkan dalam hidup adalah
ketika kamu bertemu seseorang yang
sangat berarti bagimu. hanya untuk
menemukan bahwa pada akhirnya menjadi
tidak berarti dan kamu harus
membiarkannya pergi.
Ketika pintu kebahagiaan tertutup, yang
lain terbuka, tetapi kadang-kadang kita
menatap terlalu lama pada pintu yang
telah tertutup itu sehingga kita tidak
melihat pintu lain yang telah terbuka
untuk kita.
Teman yang terbaik adalah teman dimana
kamu dapat duduk bersamanya dan merasa
terbuai, dan tidak pernah mengatakan
apa-apa dan kemudian berjalan bersama.
Perasaan itu adalah percakapan termanis
yg pernah kamu rasakan.
Benarlah bahwa kita tidak tahu apa yang
kita dapatkan sampai kita kehilangan
itu?? tetapi benar juga bahwa kita
tidak tahu apa yang hilang sampai itu
ada.
Memberikan seseorang semua cintamu
tidak pernah menjamin bahwa mereka akan
mencintai kamu juga!!! Jangan
mengharapkan cinta sebagai balasan,
tunggulah sampai itu tumbuh di dalam
hati mereka. Tetapi jika tidak,
pastikan dia tumbuh di dalam hatimu.
Ada hal yang ingin kamu dengar, tetapi
tidak akan pernah kamu dengar dari
orang yang dari mereka kamu ingin
dengar. Tetapi jangan sampai kamu
menjadi tuli walaupun kamu tidak
mendengar itu dari seseorang yang
mengatakan itu dari hatinya.
Jangan pernah berkata selamat tinggal,
jika kamu masih ingin mencoba. Jangan
menyerah selama kamu merasa masih dapat
maju. Jangan pernah berkata kamu tidak
mencintai orang itu lagi, bila kamu
tidak bisa membiarkannya pergi.
Cinta datang kepada orang yang masih
mempunyai harapan walaupun mereka telah
dikecewakan. Kepada mereka yang masih
percaya, walaupun mereka telah
dikhianati. Kepada mereka yang masih
ingin mencintai, walaupun mereka telah
disakiti sebelumnya dan kepada mereka
yang mempunyai keberanian dan keyakinan
untuk membangun kembali kepercayaan.
Jangan melihat dari wajah, itu bisa
menipu! Jangan melihat dari
kekayaan,itu bisa menghilang. Datanglah
kepada seseorang yang dapat membuatmu
tersenyum. karena sebuah senyuman dapat
membuat hari yang gelap menjadi cerah.
Berharaplah kamu dapat menemukan
seseorang yang dapat membuatmu
tersenyum.
Ada saat di dalam kehidupanmu dimana
kamu sangat merindukan seseorang, kamu
ingin mengambil mereka dari mimpimu dan
benar-benar memeluk dia. Berharaplah
bahwa kamu dapat bermimpi tentang dia,
yang berarti mimpilah apa yang kamu
impikan, pergilah kemana kamu ingin
pergi, jadilah sesuai keinginan kamu,
karena kamu hanya hidup sekali dan satu
kesempatan untuk melakukan apa yang
ingin dilakukan.
Semoga kamu mendapat cukup kebahagiaan
untuk membuat kamu bahagia,cukup cobaan
untuk membuat kamu kuat,cukup
penderitaan untuk membuat kamu menjadi
manusia yang sesungguhnya, dan cukup
harapan untuk membuat kamu bahagia.
Selalu letakkan dirimu pada posisi
orang lain. Jika kamu merasa bahwa itu
menyakitkan kamu, mungkin itu
menyakitkan orang itu juga. Kata-kata
yang ceroboh dapat mengakibatkan
perselisihan, kata-kata yang kasar bisa
membuat celaka, kata-kata yang tepat
waktu dapat mengurangi ketegangan, kata-
kata cinta dapat menyembuhkan dan
menyenangkan.
Permulaan cinta adalah dengan
membiarkan orang yang kita cintai
menjadi dirinya sendiri dan tidak
membentuk mereka menjadi sesuai
keinginan kita dengan kata lain kita
mencintai bayangan kita yang ada pada
diri mereka.
Orang yang bahagia tidak perlu memiliki
yang terbaik dari segala hal. Mereka
hanya membuat segala hal yang datang
dalam hidup mereka. Kebahagiaan adalah
bohong bagi mereka yang menangis,mereka
yang terluka, mereka yang
mencari,mereka yang mencoba.
Mereka hanya bisa menghargai orang-
orang yang penting yang telah menyentuh
hidup mereka. Cinta mulai dengan
senyuman, tumbuh dengan ciuman dan
berakhir dengan air mata. Masa depan
yang cerah berdasarkan pada masa lalu
yang telah dilupakan.
Kamu tidak dapat melangkah dengan baik
dalam kehidupan kamu sampai kamu
melupakan kegagalan kamu dan rasa sakit
hati. Ketika kamu lahir, kamu menangis
dan semua orang di sekeliling kamu
tersenyum. Hiduplah dengan hidupmu,jadi
ketika kamu meninggal, kamu satu-
satunya yang tersenyum dan semua orang
di sekeliling kamu menangis.
Karena kamu begitu berharga bagi orang
di sekeliling kamu, tunjukkanlah cinta
dari hatimu dan biarkan sekeliling kamu
menyadari bahwa mereka berarti buat
kamu dan kamu berarti bagi diri mereka.
Sangatlah menyakitkan mencintai
seseorang tetapi tidak dicintai
olehnya. Tetapi lebih indah untuk
mencintai dan tidak pernah menemukan
keberanian untuk memberitahu mereka apa
yg kamu rasakan.
Hanya perlu satu menit untuk
menghancurkan seseorang, satu jam untuk
menyukai seseorang, satu hari untuk
mencintai seseorang, tetapi membutuhkan
waktu seumur hidup untuk melupakan
seseorang.
Cinta adalah ketika kamu membawa
perasaan, kesabaran,dan roomantis dalam
suatu hubungan dan menemukan bahwa kamu
peduli dengan dia.
Hal yang menyedihkan dalam hidup adalah
ketika kamu bertemu seseorang yang
sangat berarti bagimu. hanya untuk
menemukan bahwa pada akhirnya menjadi
tidak berarti dan kamu harus
membiarkannya pergi.
Ketika pintu kebahagiaan tertutup, yang
lain terbuka, tetapi kadang-kadang kita
menatap terlalu lama pada pintu yang
telah tertutup itu sehingga kita tidak
melihat pintu lain yang telah terbuka
untuk kita.
Teman yang terbaik adalah teman dimana
kamu dapat duduk bersamanya dan merasa
terbuai, dan tidak pernah mengatakan
apa-apa dan kemudian berjalan bersama.
Perasaan itu adalah percakapan termanis
yg pernah kamu rasakan.
Benarlah bahwa kita tidak tahu apa yang
kita dapatkan sampai kita kehilangan
itu?? tetapi benar juga bahwa kita
tidak tahu apa yang hilang sampai itu
ada.
Memberikan seseorang semua cintamu
tidak pernah menjamin bahwa mereka akan
mencintai kamu juga!!! Jangan
mengharapkan cinta sebagai balasan,
tunggulah sampai itu tumbuh di dalam
hati mereka. Tetapi jika tidak,
pastikan dia tumbuh di dalam hatimu.
Ada hal yang ingin kamu dengar, tetapi
tidak akan pernah kamu dengar dari
orang yang dari mereka kamu ingin
dengar. Tetapi jangan sampai kamu
menjadi tuli walaupun kamu tidak
mendengar itu dari seseorang yang
mengatakan itu dari hatinya.
Jangan pernah berkata selamat tinggal,
jika kamu masih ingin mencoba. Jangan
menyerah selama kamu merasa masih dapat
maju. Jangan pernah berkata kamu tidak
mencintai orang itu lagi, bila kamu
tidak bisa membiarkannya pergi.
Cinta datang kepada orang yang masih
mempunyai harapan walaupun mereka telah
dikecewakan. Kepada mereka yang masih
percaya, walaupun mereka telah
dikhianati. Kepada mereka yang masih
ingin mencintai, walaupun mereka telah
disakiti sebelumnya dan kepada mereka
yang mempunyai keberanian dan keyakinan
untuk membangun kembali kepercayaan.
Jangan melihat dari wajah, itu bisa
menipu! Jangan melihat dari
kekayaan,itu bisa menghilang. Datanglah
kepada seseorang yang dapat membuatmu
tersenyum. karena sebuah senyuman dapat
membuat hari yang gelap menjadi cerah.
Berharaplah kamu dapat menemukan
seseorang yang dapat membuatmu
tersenyum.
Ada saat di dalam kehidupanmu dimana
kamu sangat merindukan seseorang, kamu
ingin mengambil mereka dari mimpimu dan
benar-benar memeluk dia. Berharaplah
bahwa kamu dapat bermimpi tentang dia,
yang berarti mimpilah apa yang kamu
impikan, pergilah kemana kamu ingin
pergi, jadilah sesuai keinginan kamu,
karena kamu hanya hidup sekali dan satu
kesempatan untuk melakukan apa yang
ingin dilakukan.
Semoga kamu mendapat cukup kebahagiaan
untuk membuat kamu bahagia,cukup cobaan
untuk membuat kamu kuat,cukup
penderitaan untuk membuat kamu menjadi
manusia yang sesungguhnya, dan cukup
harapan untuk membuat kamu bahagia.
Selalu letakkan dirimu pada posisi
orang lain. Jika kamu merasa bahwa itu
menyakitkan kamu, mungkin itu
menyakitkan orang itu juga. Kata-kata
yang ceroboh dapat mengakibatkan
perselisihan, kata-kata yang kasar bisa
membuat celaka, kata-kata yang tepat
waktu dapat mengurangi ketegangan, kata-
kata cinta dapat menyembuhkan dan
menyenangkan.
Permulaan cinta adalah dengan
membiarkan orang yang kita cintai
menjadi dirinya sendiri dan tidak
membentuk mereka menjadi sesuai
keinginan kita dengan kata lain kita
mencintai bayangan kita yang ada pada
diri mereka.
Orang yang bahagia tidak perlu memiliki
yang terbaik dari segala hal. Mereka
hanya membuat segala hal yang datang
dalam hidup mereka. Kebahagiaan adalah
bohong bagi mereka yang menangis,mereka
yang terluka, mereka yang
mencari,mereka yang mencoba.
Mereka hanya bisa menghargai orang-
orang yang penting yang telah menyentuh
hidup mereka. Cinta mulai dengan
senyuman, tumbuh dengan ciuman dan
berakhir dengan air mata. Masa depan
yang cerah berdasarkan pada masa lalu
yang telah dilupakan.
Kamu tidak dapat melangkah dengan baik
dalam kehidupan kamu sampai kamu
melupakan kegagalan kamu dan rasa sakit
hati. Ketika kamu lahir, kamu menangis
dan semua orang di sekeliling kamu
tersenyum. Hiduplah dengan hidupmu,jadi
ketika kamu meninggal, kamu satu-
satunya yang tersenyum dan semua orang
di sekeliling kamu menangis.
Karena kamu begitu berharga bagi orang
di sekeliling kamu, tunjukkanlah cinta
dari hatimu dan biarkan sekeliling kamu
menyadari bahwa mereka berarti buat
kamu dan kamu berarti bagi diri mereka.
Sahabat itu Kekayaan Sebenarnya
Cukup lama waktu yang saya butuhkan untuk mengembalikan kepercayaan diri setelah keterpurukan diri yang membuat garis hitam dalam catatan sejarah hidup saya. Catatan sejarah hitam yang tidak akan pernah bisa terhapus meski banyak air sudah yang keluar dari sudut mata, meski banyak doa yang saya harap bisa meringankan beban yang teramat berat menanggung malu dan dosa masa lalu.
Saat merasa seperti sendiri, saya menjelajahi bumi mencoba menemukan seseorang yang bisa membantu. Saya datangi seorang guru untuk menceritakan semua gundah. Ia yang dengan penuh kesabaran mendengarkan hingga huruf terakhir terucap dari lidah ini. Kemudian ia menulis beberapa kalimat dalam secarik kertas. "Bawa surat ini ke Masjid, temui anak-anak muda disana" hanya itu kalimat penutupnya.
Selepas maghrib, saya pun bergegas menuju tempat yang ditunjuk. Perlahan, malu dan merasa kotor diri ini untuk memasuki masjid, dan seketika saya merasa diri ini tidaklah berharga saat melihat wajah- wajah bersih, sebagian besar wanitanya menutup kepala mereka dengan jilbab, apalah diri ini. "Mari masuk, selamat datang. Kehadiran Anda sangat kami nantikan disini" Sungguh sebaris kalimat yang sangat hangat terdengar.
Sejenak hati ini terpaku merasakan sentuhan persahabatan yang luar biasa dari tatapan, sapaan dan tangan terbuka dari semua yang berada di dalam masjid. Terlebih ketika seorang dari mereka, merangkul pundak saya, "Inilah kami, sebuah keluarga besar yang akan juga menjadi keluarga Anda." Saya seperti baru saja mendapat peluk cium dan kehangatan yang luar biasa, nyaris menandingi kasih yang selama ini saya terima dari ibu. Ada keluarga baru disini, sahabat-sahabat baru dengan senyum dan sapa cintanya.
Hari-hari sesudah itu membantu saya melupakan masa lalu, meringankan beban menanggung dosa masa lalu yang benar-benar tidak pernah bisa hilang dari kenangan. Sahabat-sahabat baru itu seolah tengah membantu saya mengangkat beban yang teramat berat meski hanya dengan senyum, tepukan di punggung atau menyediakan telinga mereka untuk tempat saya membuang sampah mulut ini. Ya, karena kadang yang saya bicarakan kepada mereka bisa jadi tak penting bagi mereka, tapi sungguh telinga mereka tetap tersedia untuk kisah-kisah tak penting saya.
***
Dimana pun saya berada, kemana pun saya pergi, satu yang terpenting untuk saya temukan, yakni sebuah kekayaan bernama sahabat. Tidak seorang pun yang paling beruntung di dunia ini melainkan ia yang memiliki sahabat. Karena sahabat ada, untuk mereka yang terluka, untuk mereka yang tengah memikul berat beban, untuk menghapus air mata yang berduka, membantu seseorang berdiri dari keterpurukan dan menyediakan sayapnya untuk terbang bersama.
Akhirnya, sampailah saya pada satu kepastian hakikat, bahwa sahabat adalah kekayaan sebenarnya. Hilang satu, miskinlah sudah. Bertambah satu, semakin beruntunglah. Terima kasih untuk semua sahabat, Anda adalah kekayaan saya sebenarnya.
Saat merasa seperti sendiri, saya menjelajahi bumi mencoba menemukan seseorang yang bisa membantu. Saya datangi seorang guru untuk menceritakan semua gundah. Ia yang dengan penuh kesabaran mendengarkan hingga huruf terakhir terucap dari lidah ini. Kemudian ia menulis beberapa kalimat dalam secarik kertas. "Bawa surat ini ke Masjid, temui anak-anak muda disana" hanya itu kalimat penutupnya.
Selepas maghrib, saya pun bergegas menuju tempat yang ditunjuk. Perlahan, malu dan merasa kotor diri ini untuk memasuki masjid, dan seketika saya merasa diri ini tidaklah berharga saat melihat wajah- wajah bersih, sebagian besar wanitanya menutup kepala mereka dengan jilbab, apalah diri ini. "Mari masuk, selamat datang. Kehadiran Anda sangat kami nantikan disini" Sungguh sebaris kalimat yang sangat hangat terdengar.
Sejenak hati ini terpaku merasakan sentuhan persahabatan yang luar biasa dari tatapan, sapaan dan tangan terbuka dari semua yang berada di dalam masjid. Terlebih ketika seorang dari mereka, merangkul pundak saya, "Inilah kami, sebuah keluarga besar yang akan juga menjadi keluarga Anda." Saya seperti baru saja mendapat peluk cium dan kehangatan yang luar biasa, nyaris menandingi kasih yang selama ini saya terima dari ibu. Ada keluarga baru disini, sahabat-sahabat baru dengan senyum dan sapa cintanya.
Hari-hari sesudah itu membantu saya melupakan masa lalu, meringankan beban menanggung dosa masa lalu yang benar-benar tidak pernah bisa hilang dari kenangan. Sahabat-sahabat baru itu seolah tengah membantu saya mengangkat beban yang teramat berat meski hanya dengan senyum, tepukan di punggung atau menyediakan telinga mereka untuk tempat saya membuang sampah mulut ini. Ya, karena kadang yang saya bicarakan kepada mereka bisa jadi tak penting bagi mereka, tapi sungguh telinga mereka tetap tersedia untuk kisah-kisah tak penting saya.
***
Dimana pun saya berada, kemana pun saya pergi, satu yang terpenting untuk saya temukan, yakni sebuah kekayaan bernama sahabat. Tidak seorang pun yang paling beruntung di dunia ini melainkan ia yang memiliki sahabat. Karena sahabat ada, untuk mereka yang terluka, untuk mereka yang tengah memikul berat beban, untuk menghapus air mata yang berduka, membantu seseorang berdiri dari keterpurukan dan menyediakan sayapnya untuk terbang bersama.
Akhirnya, sampailah saya pada satu kepastian hakikat, bahwa sahabat adalah kekayaan sebenarnya. Hilang satu, miskinlah sudah. Bertambah satu, semakin beruntunglah. Terima kasih untuk semua sahabat, Anda adalah kekayaan saya sebenarnya.
Saat Cinta berpaling Darimu ( Pengalaman sejati seorang istri - Asma Nadia )
Apakah dia merasa putus asa ketika mengetahui bahwa gaji
suaminya yang masih kuliah itu hanya 200 ribu sebulan?
Apakah dia putus asa ketika mereka harus berpindah-pindah
kontrakan dari satu rumah mungil ke rumah mungil yang lain?
Apakah perempuan itu mengeluh, ketika berbulan-bulan hanya
makan tempe dan sayur, yang masing-masing dibeli seribu rupiah
di warung, ketika sang suami tak bekerja cukup lama?
Jawabannya tidak.
Perempuan berwajah manis, yang saya kenal itu sebaliknya
selalu terlihat cerah, seolah permasalahan ekonomi yang
menerpa keluarga kecil mereka, tak
berarti apa-apa.
Pun ketika kesulitan hidup terus berlanjut. Menjelang
kelahiran anak pertama mereka, suami masih belum memiliki
pekerjaan yang mapan. Tapi perempuan itu tidak putus asa.
Sedikitpun dia tak menyesali telah
menikah dengan lelaki pilihannya. Lelaki yang dia cintai
karena
kecerdasan dan kegigihannya. Lelaki yang amat dia hormati,
yang dia tahu selalu berupaya sungguh-sungguh untuk
membahagiakan, dan membuatnya merasa seperti seorang putri.
Dan kenyataan bahwa mereka tinggal di rumah kontrakan yang
nyaris mau runtuh, dengan kamar mandi jelek, dan serangga di
mana-mana yang kerap membuat menimbulkan ruam merah pada
kulitnya yang putih. Perempuan itu tidak pernah sedikitpun
mengeluh.
Lalu anak pertama lahir. Gagah, dengan alis tebal nyaris
bertaut. Dia dan suami menerima kehadiran pangeran kecil itu
dengan hati berbunga. Meski mereka
harus berhutang ke sana ke mari agar biaya kelahiran yang
melalui
prosedur caesar itu, bisa dilunasi. Sekali lagi, perempuan itu
tidak pernah mengeluh.
Hidup baginya adalah rentetan ucapan syukur kepada yang kuasa,
dari waktu ke waktu. Ketika anak kedua mereka lahir, roda
ekonomi keluarga telah jauh lebih baik. Laki-laki yang
dicintainya mendapatkan pekerjaan yang mapan. Mereka tak lagi
bingung memikirkan kebutuhan sehari-hari, makan, lalu susu buat anak-anak.
Perempuan yang saya kenal sejak lama itu, membantu suaminya
dengan bekerja paruh waktu bagi sebuah taman bermain anak-anak
yang cukup prestise. Seiring
kehidupan yang mulai membaik, perempuan itu tak lagi
mengerjakan semua sendiri. Apalagi seorang buah hati lagi
telah hadir.
Sang suami memintanya lebih konsen kepada pekerjaan paruh
waktu yang digeluti istrinya. Tahun ke empat pernikahan mereka
mulai menyewa baby sitter, ketika
itu si bungsu belum lagi berusia sepuluh bulan.
Lalu datanglah kesempatan bagi sang istri. Lembaga tempat dia
bekerja paruh waktu, menawarkan program training ke luar
negeri. Awalnya sang istri ragu, sebab dia khawatir
meninggalkan anak-anak selama dua pekan. Tetapi lelaki yang
dicintainya memberikan support dan mendorongnya untuk pergi,
"Ini pengalaman bagus buat Ibu," kata lelaki itu.
Dan ketika dia ingin membantah, lelaki itu menggelengkan
kepalanya, "Perempuan lain ingin mendapatkan pengalaman
berharga seperti ini. Ibu harus pergi. Gak apa. Ada mbak yang
menjaga anak-anak."
Dengan setengah hati perempuan berwajah manis itu meninggalkan
keluarganya. Selama dua pekan di sana dilaluinya dengan rindu
yang menyiksa, dan perasan
berat karena selalu terbayang anak-anak.
Naluri keibuannya rupanya tidak bisa dibohongi. Meskipun sang
suami selalu berkata semua baik-baik saja, perempuan itu
merasakan ada sesuatu yang terjadi. Dan perasaannya benar.
Anak bungsu mereka dirawat di rumah sakit karena demam
berdarah!
Suaminya yang takut membuatnya panik baru menjelaskan ketika
istrinya pulang ke tanah air.
"Maafkan ayah, ayah takut ibu bingung."
Perempuan itu menangis. Syukurlah kondisi putri mereka membaik
Tapi ada hal lain yang terjadi. Hal yang tak pernah diduganya,
hal yang membuat jantungnya luruh.
Suaminya jatuh cinta.
Perempuan itu sungguh tak percaya, ketika mendengarkan ibu
mertuanya menangis tersedu-sedu menjelaskan apa yang terjadi.
Dunia bahagia yang selama ini dibangunnya seakan runtuh.
Apalagi ketika mengetahu gadis cantik yang membuat suaminya
jatuh hati, adalah baby sitter yang
mereka sewa.
Mereka hanya berpegangan tangan. Tak lebih. Elak suaminya.
Tapi hati perempuan itu telanjur hancur. Harapan-harapan yang
dibangunnya seakan menguap. Suaminya berpaling. Lelaki yang
telah
membuatnya merasa seperti seorang putri, jatuh cinta lagi.
Tuhan... apa maksudmu dengan ini semua? Batin sang
istri yang terkoyak. Dengan hati hempas, dia memanggil baby
sitter mereka. Baru kali ini si perempuan memandang
lekat-lekat gadis berusia sembilan belas tahun itu.
Meskipun dari desa, wajahnya memang cantik dan ayu. Kulitnya
bersih, rambutnya yang panjang tampak begitu mengilat. Dulu
tak dikiranya
kecantikan lugu itu akan
memorakmorandakan rumah tangga mereka.
Perempuan itu duduk berhadapan dengan baby sitter yang
tertunduk salah tingkah.
"Sudah sejauh apa?'
Baby sitter itu mengelak. Tak mau berbicara lebih jauh.
"Apakah kamu menyukai Bapak?"
Baby sitter itu diam. Ragu. Lalu kepalanya pelan menggeleng.
"Saya tak keberatan jika bapak menyukaimu, dan kamu menyukai
bapak, Kalian bisa menikah!"
Saya kaget. Saya berada di sana , menemani perempuan yang telah
lama menjadi sahabat saya. Tetap saja kalimat terakhirnya
mengejutkan saya.
Si baby sitter cantik menggeleng. Lagi-lagi salah tingkah.
Saat itu suami si perempuan sedang berada di kantor, sehingga
mereka leluasa berbicara. Tidak jauh
dari mereka, mertua sahabat saya tampak menangis sesenggukan.
Sebaliknya wajah sahabat saya tampak sangat tegar.
Ketegaran itu baru runtuh ketika kami hanya berdua. Sahabat
saya
menangis. Belum pernah saya melihat air mata sebanyak itu
tumpah di wajahnya.
"Saya sedih," bisiknya, "Salahkah?"
Saya menggeleng. Kesedihan adalah teman kemanusiaan.
Tak apa.
"Ibu tadi cerita, bahkan ketika Andin sakit, Ayahnya memilih
menemani perempuan itu berobat, meski hanya flu biasa, dan
meninggalkan Andin diperiksa hanya
dengan ibu,"
Ah, lelaki begitu mudahkah larut dalam pesona?
Saya kehilangan kata-kata. Percuma mengibur, apalagi
berkata saya mengerti perasaannya. Saya tak ingin
berbasa basi yang tidak perlu.
Kehidupan berlanjut. Suami perempuan itu mengakui
kesalahannya, dan berjanji tidak akan mengulangi. Lelaki itu
memohon-mohon agar sang istri mau memaafkannya.
"Bisakah?" tanya saya suatu hari. Ketika itu tahun-tahun sudah
berlalu begitu banyak.
"Saya tidak tahu," jawab sahabat saya.
Selalu dan selalu, matanya yang cerah meredup setiap teringat
kisah itu. Barangkali memang ada beberapa luka yang tak bisa
sembuh, bahkan oleh waktu.
Enam bulan setelah kejadian itu, sahabat saya memang sempat
bercerita perasaannya setiap kali suaminya mendekati,
"Saya merasa jijik," ujarnya dengan wajah bersalah.
"Tak apa, semua perlu waktu. Lagian yang terjadi tidak
sejauh itu. Jangan menyiksa pikiran,"
"Tapi siapa yang tahu apa yang sebenarnya terjadi?"
Saya diam. Sahabat saya benar. Hanya suaminya dan si baby
sitter yang tahu segala. Mereka terkadang pergi ke luar rumah
berdua. Dulu terasa biasa saja mereka
hanya ke warung, atau apotik. Entahlah.
Ketika saya meminta izin menuliskan cerita ini, sahabat saya
mengiyakan, meski dia masih belum lagi sembuh dari kesedihan.
Memang tidak ada perceraian. Sang suami tampak
bersungguh-sungguh menjaga keutuhan
keluarga mereka. Apalagi ada anak-anak diantara keduanya.
"Dia bapak yang baik!" papar sahabat saya suatu hari.
Kehidupan memang terus berjalan. Satu peristiwa, satu hati
yang berdarah. Satu hati yang belum juga sembuh.
"Kami masih tidak bisa bersama," jelasnya.
Saya mengerti. Peristiwa itu seolah membekukan semua
kehangatan dan keceriaannya sebagai seorang istri. Sang suami
tak memaksa. Menjalani saja kehidupan apa adanya. Anak-anak
lebih penting.
Entah sampai kapan mereka bisa bertahan, saya tidak tahu. Tak
juga mau menduga-duga. Saya cukup senang akhirnya sahabat saya
bisa mendapatkan kepercayaan diri yang sempat hancur ketika
menyadari sosok perempuan yang telah merebut hati
suaminya, tak hanya lebih cantik tapi juga jauh lebih muda.
Perlahan sahabat saya mencoba melupakan apa yang terjadi.
Padahal dunia sempat terasa berhenti baginya.
Hubungan normal layaknya suami istri memang sudah patah, akan
sulit merekatkannya kembali. Tapi saya mengagumi semangatnya
mempertahankan pernikahan, dan tetap menjalaninya penuh
syukur. Perempuan itu bahkan pasrah jika karena
ketidakmampuannya sekarang, dikarenakan ulah sang suami,
mungkin justru mengakibatkan sang suami menikah di
belakangnya.
"Dulu hal itu perkara besar buat saya, tapi sekarang..."
sahabat saya itu tertawa.
Sebenarnya banyak yang ingin saya tanyakan padanya. Apakah dia
bahagia? Apakah suaminya bahagia? Kenapa tidak bercerai dan
sama-sama memulai yang baru?
Sebagian orang mungkin akan berpikir begitu. Hidup terlalu
singkat untuk larut dalam ketidakbahagiaan.
Betapapun saya menghormati komitmen keduanya. Juga perkataan
sahabat saya, yang akan selalu saya ingat, " Ada hati-hati
kecil yang harus dijaga, Asma. Setiap
mengingat mereka, maka luka-luka lain menjadi kalah penting.
Kebahagiaan saya sempat runtuh, tapi kebahagiaan ketiga anak
saya tidak. Dan saya harus
bisa menjaganya. Sekuat saya."
suaminya yang masih kuliah itu hanya 200 ribu sebulan?
Apakah dia putus asa ketika mereka harus berpindah-pindah
kontrakan dari satu rumah mungil ke rumah mungil yang lain?
Apakah perempuan itu mengeluh, ketika berbulan-bulan hanya
makan tempe dan sayur, yang masing-masing dibeli seribu rupiah
di warung, ketika sang suami tak bekerja cukup lama?
Jawabannya tidak.
Perempuan berwajah manis, yang saya kenal itu sebaliknya
selalu terlihat cerah, seolah permasalahan ekonomi yang
menerpa keluarga kecil mereka, tak
berarti apa-apa.
Pun ketika kesulitan hidup terus berlanjut. Menjelang
kelahiran anak pertama mereka, suami masih belum memiliki
pekerjaan yang mapan. Tapi perempuan itu tidak putus asa.
Sedikitpun dia tak menyesali telah
menikah dengan lelaki pilihannya. Lelaki yang dia cintai
karena
kecerdasan dan kegigihannya. Lelaki yang amat dia hormati,
yang dia tahu selalu berupaya sungguh-sungguh untuk
membahagiakan, dan membuatnya merasa seperti seorang putri.
Dan kenyataan bahwa mereka tinggal di rumah kontrakan yang
nyaris mau runtuh, dengan kamar mandi jelek, dan serangga di
mana-mana yang kerap membuat menimbulkan ruam merah pada
kulitnya yang putih. Perempuan itu tidak pernah sedikitpun
mengeluh.
Lalu anak pertama lahir. Gagah, dengan alis tebal nyaris
bertaut. Dia dan suami menerima kehadiran pangeran kecil itu
dengan hati berbunga. Meski mereka
harus berhutang ke sana ke mari agar biaya kelahiran yang
melalui
prosedur caesar itu, bisa dilunasi. Sekali lagi, perempuan itu
tidak pernah mengeluh.
Hidup baginya adalah rentetan ucapan syukur kepada yang kuasa,
dari waktu ke waktu. Ketika anak kedua mereka lahir, roda
ekonomi keluarga telah jauh lebih baik. Laki-laki yang
dicintainya mendapatkan pekerjaan yang mapan. Mereka tak lagi
bingung memikirkan kebutuhan sehari-hari, makan, lalu susu buat anak-anak.
Perempuan yang saya kenal sejak lama itu, membantu suaminya
dengan bekerja paruh waktu bagi sebuah taman bermain anak-anak
yang cukup prestise. Seiring
kehidupan yang mulai membaik, perempuan itu tak lagi
mengerjakan semua sendiri. Apalagi seorang buah hati lagi
telah hadir.
Sang suami memintanya lebih konsen kepada pekerjaan paruh
waktu yang digeluti istrinya. Tahun ke empat pernikahan mereka
mulai menyewa baby sitter, ketika
itu si bungsu belum lagi berusia sepuluh bulan.
Lalu datanglah kesempatan bagi sang istri. Lembaga tempat dia
bekerja paruh waktu, menawarkan program training ke luar
negeri. Awalnya sang istri ragu, sebab dia khawatir
meninggalkan anak-anak selama dua pekan. Tetapi lelaki yang
dicintainya memberikan support dan mendorongnya untuk pergi,
"Ini pengalaman bagus buat Ibu," kata lelaki itu.
Dan ketika dia ingin membantah, lelaki itu menggelengkan
kepalanya, "Perempuan lain ingin mendapatkan pengalaman
berharga seperti ini. Ibu harus pergi. Gak apa. Ada mbak yang
menjaga anak-anak."
Dengan setengah hati perempuan berwajah manis itu meninggalkan
keluarganya. Selama dua pekan di sana dilaluinya dengan rindu
yang menyiksa, dan perasan
berat karena selalu terbayang anak-anak.
Naluri keibuannya rupanya tidak bisa dibohongi. Meskipun sang
suami selalu berkata semua baik-baik saja, perempuan itu
merasakan ada sesuatu yang terjadi. Dan perasaannya benar.
Anak bungsu mereka dirawat di rumah sakit karena demam
berdarah!
Suaminya yang takut membuatnya panik baru menjelaskan ketika
istrinya pulang ke tanah air.
"Maafkan ayah, ayah takut ibu bingung."
Perempuan itu menangis. Syukurlah kondisi putri mereka membaik
Tapi ada hal lain yang terjadi. Hal yang tak pernah diduganya,
hal yang membuat jantungnya luruh.
Suaminya jatuh cinta.
Perempuan itu sungguh tak percaya, ketika mendengarkan ibu
mertuanya menangis tersedu-sedu menjelaskan apa yang terjadi.
Dunia bahagia yang selama ini dibangunnya seakan runtuh.
Apalagi ketika mengetahu gadis cantik yang membuat suaminya
jatuh hati, adalah baby sitter yang
mereka sewa.
Mereka hanya berpegangan tangan. Tak lebih. Elak suaminya.
Tapi hati perempuan itu telanjur hancur. Harapan-harapan yang
dibangunnya seakan menguap. Suaminya berpaling. Lelaki yang
telah
membuatnya merasa seperti seorang putri, jatuh cinta lagi.
Tuhan... apa maksudmu dengan ini semua? Batin sang
istri yang terkoyak. Dengan hati hempas, dia memanggil baby
sitter mereka. Baru kali ini si perempuan memandang
lekat-lekat gadis berusia sembilan belas tahun itu.
Meskipun dari desa, wajahnya memang cantik dan ayu. Kulitnya
bersih, rambutnya yang panjang tampak begitu mengilat. Dulu
tak dikiranya
kecantikan lugu itu akan
memorakmorandakan rumah tangga mereka.
Perempuan itu duduk berhadapan dengan baby sitter yang
tertunduk salah tingkah.
"Sudah sejauh apa?'
Baby sitter itu mengelak. Tak mau berbicara lebih jauh.
"Apakah kamu menyukai Bapak?"
Baby sitter itu diam. Ragu. Lalu kepalanya pelan menggeleng.
"Saya tak keberatan jika bapak menyukaimu, dan kamu menyukai
bapak, Kalian bisa menikah!"
Saya kaget. Saya berada di sana , menemani perempuan yang telah
lama menjadi sahabat saya. Tetap saja kalimat terakhirnya
mengejutkan saya.
Si baby sitter cantik menggeleng. Lagi-lagi salah tingkah.
Saat itu suami si perempuan sedang berada di kantor, sehingga
mereka leluasa berbicara. Tidak jauh
dari mereka, mertua sahabat saya tampak menangis sesenggukan.
Sebaliknya wajah sahabat saya tampak sangat tegar.
Ketegaran itu baru runtuh ketika kami hanya berdua. Sahabat
saya
menangis. Belum pernah saya melihat air mata sebanyak itu
tumpah di wajahnya.
"Saya sedih," bisiknya, "Salahkah?"
Saya menggeleng. Kesedihan adalah teman kemanusiaan.
Tak apa.
"Ibu tadi cerita, bahkan ketika Andin sakit, Ayahnya memilih
menemani perempuan itu berobat, meski hanya flu biasa, dan
meninggalkan Andin diperiksa hanya
dengan ibu,"
Ah, lelaki begitu mudahkah larut dalam pesona?
Saya kehilangan kata-kata. Percuma mengibur, apalagi
berkata saya mengerti perasaannya. Saya tak ingin
berbasa basi yang tidak perlu.
Kehidupan berlanjut. Suami perempuan itu mengakui
kesalahannya, dan berjanji tidak akan mengulangi. Lelaki itu
memohon-mohon agar sang istri mau memaafkannya.
"Bisakah?" tanya saya suatu hari. Ketika itu tahun-tahun sudah
berlalu begitu banyak.
"Saya tidak tahu," jawab sahabat saya.
Selalu dan selalu, matanya yang cerah meredup setiap teringat
kisah itu. Barangkali memang ada beberapa luka yang tak bisa
sembuh, bahkan oleh waktu.
Enam bulan setelah kejadian itu, sahabat saya memang sempat
bercerita perasaannya setiap kali suaminya mendekati,
"Saya merasa jijik," ujarnya dengan wajah bersalah.
"Tak apa, semua perlu waktu. Lagian yang terjadi tidak
sejauh itu. Jangan menyiksa pikiran,"
"Tapi siapa yang tahu apa yang sebenarnya terjadi?"
Saya diam. Sahabat saya benar. Hanya suaminya dan si baby
sitter yang tahu segala. Mereka terkadang pergi ke luar rumah
berdua. Dulu terasa biasa saja mereka
hanya ke warung, atau apotik. Entahlah.
Ketika saya meminta izin menuliskan cerita ini, sahabat saya
mengiyakan, meski dia masih belum lagi sembuh dari kesedihan.
Memang tidak ada perceraian. Sang suami tampak
bersungguh-sungguh menjaga keutuhan
keluarga mereka. Apalagi ada anak-anak diantara keduanya.
"Dia bapak yang baik!" papar sahabat saya suatu hari.
Kehidupan memang terus berjalan. Satu peristiwa, satu hati
yang berdarah. Satu hati yang belum juga sembuh.
"Kami masih tidak bisa bersama," jelasnya.
Saya mengerti. Peristiwa itu seolah membekukan semua
kehangatan dan keceriaannya sebagai seorang istri. Sang suami
tak memaksa. Menjalani saja kehidupan apa adanya. Anak-anak
lebih penting.
Entah sampai kapan mereka bisa bertahan, saya tidak tahu. Tak
juga mau menduga-duga. Saya cukup senang akhirnya sahabat saya
bisa mendapatkan kepercayaan diri yang sempat hancur ketika
menyadari sosok perempuan yang telah merebut hati
suaminya, tak hanya lebih cantik tapi juga jauh lebih muda.
Perlahan sahabat saya mencoba melupakan apa yang terjadi.
Padahal dunia sempat terasa berhenti baginya.
Hubungan normal layaknya suami istri memang sudah patah, akan
sulit merekatkannya kembali. Tapi saya mengagumi semangatnya
mempertahankan pernikahan, dan tetap menjalaninya penuh
syukur. Perempuan itu bahkan pasrah jika karena
ketidakmampuannya sekarang, dikarenakan ulah sang suami,
mungkin justru mengakibatkan sang suami menikah di
belakangnya.
"Dulu hal itu perkara besar buat saya, tapi sekarang..."
sahabat saya itu tertawa.
Sebenarnya banyak yang ingin saya tanyakan padanya. Apakah dia
bahagia? Apakah suaminya bahagia? Kenapa tidak bercerai dan
sama-sama memulai yang baru?
Sebagian orang mungkin akan berpikir begitu. Hidup terlalu
singkat untuk larut dalam ketidakbahagiaan.
Betapapun saya menghormati komitmen keduanya. Juga perkataan
sahabat saya, yang akan selalu saya ingat, " Ada hati-hati
kecil yang harus dijaga, Asma. Setiap
mengingat mereka, maka luka-luka lain menjadi kalah penting.
Kebahagiaan saya sempat runtuh, tapi kebahagiaan ketiga anak
saya tidak. Dan saya harus
bisa menjaganya. Sekuat saya."
Langganan:
Postingan (Atom)